Minggu, 18 April 2021

DHYS Chapter 2 #1

 Akupun dikenalkan kepada keluarga dari ayah kandungnya dan akupun baru tahu bahwa kedua orangtua – nya telah lama berpisah ketika ia dulu masih kecil, kupikir ia sama seperti hal yang ku alami hanya saja kami berbeda cerita. Aku sangat senang ketika aku di kenalkan olehnya kepada kedua orangtua – nya, bagiku itu adalah sebuah penghormatan untukku. Keluarganya dan saudara – saudaranya sangat baik menerimaku, hingga pada pernikahan kakak saudara perempuannya pun mengundangku untuk datang dan disaat itulah pertama kali aku bertemu dengan semua saudara – saudaranya termasuk kakeknya sendiri 

 
 
         Tahun pun berganti dan diawal tahun 2018 tersebut sungguh tidak mengenakan untukku karna bapakku jatuh sakit dan harus segera di bawa ke rumah sakit terdekat karna tepat malam sabtu bapakku masuk keruang Instalasi Gawat Darurat. Dan disaat itu juga aku mengabarinya bahwa orangtua – ku jatuh sakit, selama dua hari itu mungkin aku tak bisa tertidur seperti biasa karna orang yang banggakan sedang terbaring lemah tak berdaya, pada saat itu aku hanya ditemani oleh seorang teman ku yang mungkin sudah kuanggap dia sebagai sahabatku. 
 
“ Bapakku masuk rumah sakit tadi pagi” pesanku singkat padanya. 
“ memang bapak sakit apa ?” tanyanya. 
“ kata ibu jantungnya lemah sama diabetes” balasku 
ohiya perlu kalian ketahui bahwa bapakku telah menikah lagi dengan ibu tiriku setelah delapan tahun menduda karna ibuku meninggal pada tahun 2009 dan kemudian menikah lagi pada tahun 2017 dimana disaat aku baru pulang ke karawang, beliau menikah atas permintaanku tahun lalu.
 
“ cepet sembuh ya buat bapak, kamu gausah sedih do’ain aja buat bapak” jawabnya. 
“ iya, aku gabisa maafin diri aku sendiri kalo bapak sudah gak ada.” balasku 
“ kamu gak boleh ngomong kaya gitu ah gak baik.” katanya 
“ sudah kamu istirahat saja sana, sekarang sudah malem.” lanjutnya 
 
keesokan harinya tepat di pukul 01:43 hari senin dini hari bapakku menghembuskan nafas terakhirnya, sontak aku yang ketika itu sedang tertidur lansung terbangun karna kakak perempuanku memukulku sambil menangis, bagiku melihatnya pergi untuk selama – lamanya adalah pukulan yang keras buatku untuk menjalani hidup tanpa sosok seorang bapak di sampingku.
Tanpa berpikir panjang aku langsung menghubunginya dan 
disaat itu dia telah tertidur lelap tanpa berpikir panjang aku langsung menghubungi kakak saudari – nya untuk meminta membangunnya yang sedang tertidur dan aku langsung memberi tahu bahwa bapakku telah tiada, ketika pagi  menjelang dia pun tiba dirumahku yang sudah dipenuhi oleh teman – temanku serta para pengurus DKM Mesjid dan tetangga dari sekitaran komplek rumahku, tak luput para teman - teman kerja bapakku pun datang untuk sekedar memberi penghormatan terakhir kepada bapakku. Sebagai penghormatan terakhirku sebagai anak kepada seorang bapak aku memandikkan jenazahnya dan juga menciumnya untuk terakhir kalinya, disana juga terlibat abangku untuk ikut memandikan jenazah tapi abangku tak sanggup untuk menahan isak tangisnya lalu memilih keluar untuk tidak ikut andil, akhirnya hanya aku saja yang memandikan orangtua ku tuk terakhir kalinya. Aku melihat ada senyuman damai di raut wajah beliau yang artinya beliau telah tenang dan damai, pak, tak banyak aku ungkapkan rasa sayangku padamu, mungkin hanya lewat do’a itu telah mewakilkan semuanya. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 2 #part 2

Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat bagi-ku, sesekali ia datang kerumah-ku hanya sekedar tuk memastikan keadaan-ku dalam baik-baik saja,...